Cerpen Kompas: Radio Transistor

Di posting oleh Cerpen Kompas pada 12:59 PM, 08-Jun-12

Cerpen Kompas Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini.

Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan.

Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan, pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beberapa ratus meter ke arah bukit, terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu, selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker, kata mereka.

Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan, aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.

Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya, jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Kakek Lido, suaminya, sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar.

Dua anak gadisnya, Jona dan Warni, berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat, tepat di atas ranjang keduanya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik, tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak- anaknya. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda.

Tak lama, upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Tak ada apa-apa. Gelap.

Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya, kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Saat istrinya membopong pisang, jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu, Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek.

Nenek Lido bertubuh subur. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Konon, nenek Lido dulu cantik. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Kata ayahnya, terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Lagipula, mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis, segar, dan kuat seperti ibunya.

Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai, dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak… kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.

”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. Alu kita patah,” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa.

”Kata Nisa, kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu,” kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.

Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek… krreek… krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Akh, angin semakin kencang, pikirnya. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia, namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tiba-tiba.

”Siapa kamu? Aaakkhh… Kindo,” Jona dan Warni menjerit. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Baju Jona telah robek di bagian depan.

Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.

”Siapaa…?” teriaknya setengah melompat.

”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis.

Dengan keras, Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Lelaki itu tersentak keras. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Dengan sekali mengayunkan tangan, Rappe, jawara kampung sebelah, menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Dari arah belakang, Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Rappe semakin marah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang.

Nenek Lido melengking marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rumah panggung itu bergoyang keras. Dalam gelap, Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rappe mundur. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan.

Dalam gelap, sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Maka, dengan secepat kilat, nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya ke depan pintu kamar. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Cresss… Berhasil. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis, ”Kindo…..”. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan.

”Dia sudah pergi. Nyalakan lampu,” Nenek Lido menyuruh Jona. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Dengan susah payah, Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Tangannya gemetar dan nyeri. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah, kepalanya juga. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Tapi Nenek Lido tidak menangis.

Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari, bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah.

Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Saat mendekati sakratul maut, Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Entah apa. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu.

Jakarta, 4 November 2005

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar